Posted on September 12, 2008 by dltpdf
|
قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65)
Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menterjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan.
Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahu bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.
Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang kepada kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur’an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An’am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud.
Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An’am 6: 88).
Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur’an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami tentang istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir.
Disamping arraf, kahin, dan ahli sihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli nujum yang menghubungkan antara pergerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi/kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh kemunculan bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah saw yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang” (HR Bukhori – Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli nujum? Na’udzubillah
|
DIarsipkan di bawah: Hikmah Harian | Leave a Comment »
Posted on September 3, 2008 by dltpdf
Abstrak
Faktor utama yang menentukan proses pemurnian nira, adalah aliran nira mentah stabil, penambahan susu kapur dan gas SO2 yang optimal, serta nilai pH dan suhu nira yang tepat. Karena proses pemurnian nira merupakan proses kimia-fisis yang kontinyu dan memerlukan waktu yang cepat/singkat, maka sudah seharusnya dalam penendalian proses dikerjakan secara kontinyu dan otomatis. Pemilihan bahan kimia/pereaksi yaitu kapur 6-10 oBe dan belerang yang mempunyai sisa pembakaran < 1%, dan tidak berbentuk selaput film yang menutupi permukaan, dan sistem pengendalian otomatis yang cocok merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kualitas hasil produk dengan meningkatkan efisiensi.
DIarsipkan di bawah: manisan Gula | Leave a Comment »
Posted on September 2, 2008 by dltpdf
وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
ِالصَّبْرِ
Demi MASA…..Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr 103: 1-3) Seorang Ustadz menyampaikan pesan Ali bin Abi Thalib: “Undhur ma qoola wa laa tandhur man qoola.” (Perhatikanlah aa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.) Akan tetapi mengamalkan memang tidak semudah mengucapkan, lanjut ustadz tadi. Apalagi kalau yang diucapkan itu berupa teguran yang nyrempet dan menggores di hati kita. Bukan lapang hati yang tampil ke muka, tetapi luka hati yang mengemuka. Ya Allah, ternyata tidak mudah menggapai sorgamu bagi hati yang tertipu. Sasudaraku, sebaiknya jangan tergesa-gesa menghentikan atau menolak pembicaraan orang yang tidak sesuai dengan kehendak hati kita. Boleh jadi sesuatu yang tidak suka itu baik bagi kita dan boleh jadi sesuatu yang kita suka itu jelek bagi kita.(QS Al Baqarah 2: 216). Siapapun yang berstatus sebagai ustadz sering mengalami kesulitan untuk mendengar nasehat orang. Bukan karena tidak mampu mendengar tetapi sering karena merasa dirinya pintar dan benar. Kadang juga karena kedengakian dan kebencian. Kadang juga karena alasan menyembunyikan kekurangannya sendiri. Takut ketahuan orang lain. Nah kalau sudah begini, berarti kita beramal bukan karena Allah. Boleh jadi kita beramal karena hawa nafsu atau bahkan setan. Kita telah mengkhianatai ikrar kita sendiri Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbi’alamiin. Jangan biarkan kecintaan atau kebencian kita kepada golongan menyebabkan kita terhalang dari hidayah Allah. Kalau nasehat berasal dari golongan lain kita tanggapi dengan setengah hati. Kalau nasehat berasal dari golongan sendiri kita tanggapi dengan buta hati. Buka mata hati kita lebar-lebar agar kebenaran itu betul-betul nampak benar dan kebatilan itu betul-betul nampak batil, seperti yang biasa kita doakan. Alloohumma arinal-haqqo haqqo warzuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzuqnaj-tinaabah. Jangan juga karena kebencian kita kepada seseorang menyebabkan kita menutup telinga dari nasehatnya. Kalau kita berbuta demikian berarti kita telah berlaku tidak adil terhadapnya dan berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Padahal Allah berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al Maidah 5:8 ) Sebagai orang yang ditegur tidak perlu kita mempersoalkan bagaimana cara menegur, keindahan susunan kalimatnya, waktu menegur dan segala variasinya. Yang perlu kita perhatikan adalah hakekat teguran tersebut. Kalau teguran itu birisi kebenaran berarti teguran itu berasal dari Allah melalui lisan orang yang menegur. Sebaiknya kita tanggapi dengan senang hati, tanpa ragu-ragu kita ikuti. Al Haqqu min robbika fa laa takunanna minalmumtariinn (QS Al Baqarah 2: 147). Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Dilanjutkan dengan sikap positif, berterima kasih terhadap orang yang menegur dan memperlakukannya sebagai saudara sejati. Orang-orang yang suka menjilat atau bersikap ABS (Asal Bapak Senang) tidak berani menegur. Mereka hakikatnya bukan teman tetapi musuh dalam selimut. Sebagai penegur memang kita harus memperhatikan karakter siapa yang ditegur, suasana hati yang ditegur, memperhatikan waktu menegur dan segala macam variable yang berpengaruh terhadap sampainya sebuah teguran. Tentu tidak hanya sampai di telinga, tetapi sampai di hati dan mampu mendatangkan perubahan yang berarti. Tentu saja kepada siapapun teguran pertama dan kedua selalu kita upayakan dengan lemah lembut. Akan tetapi ketika teguran demi teguran ternyata tidak mempan, hanya masuk dari telinga kanan ke luar dari telinga kiri, tidak ada salahnya kalau kita tegur dengan keras agar membekas di hati sanubarinya. Hal yang perlu selalu kita ingat adalah jangan kita membenci orang yang berlaku salah, jangan kita membenci orang yang kita tegur. Yang kita benci adalah amalnya yang salah, menyimpang dari kebenaran. Yang kita musuhi adalah setan yang menyesatkan, yang harus kita keluarkan dari diri saudara kita. Kalau dia menolak teguran kita, maka kita upayakan menegur dangan cara lain. Kalau dia membenci kita karena teguran kita, tidak perlu kita balas dengan kebencian. Kalau ada yang harus kita benci, maka yang kita benci adalah setan yang menguasai saudara kita itu. Kalau setan gigih menyesatkan saudara kita dan tidak akan berhenti sebelum dia masuk neraka, maka kita juga harus gigih dalam menegur saudara kita, belum akan berhenti sebelum kembali ke jalan yang benar dan sama-sama mati dalam keadaan khusnul-khootimah. Kita tanamkan di dalam hati sanubari kita bahwa umat islam adalah satu tubuh. Kita tidak akan membiarkan sebagian tubuh kita terbakar api neraka sedang sebagian lain bernikmat-nikmat di sorga. Meskipun untuk sebuah sikap yang mulia ini kita harus menebusnya dengan dibenci banyak orang, dikucilkan, dipojokkan, dan dikandangkan (di sitir dari http://mta-online.com/v1/index.php?option=com_content&task=view&id=385&Itemid=1)
DIarsipkan di bawah: Hikmah Harian | Leave a Comment »
Posted on September 2, 2008 by dltpdf
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon . Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol W (Omega). Tipe resistor yang umum adalah berbentuk tabung dengan dua kaki tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut. Waktu penulis masuk pendaftaran kuliah elektro, ada satu test yang harus dipenuhi yaitu diharuskan tidak buta warna. Belakangan baru diketahui bahwa mahasiswa elektro wajib untuk bisa membaca warna gelang resistor (barangkali).
Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. Kalau anda telah bisa menentukan mana gelang yang pertama selanjutnya adalah membaca nilai resistansinya.
Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas adalah gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah. Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi. Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Jika diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%.
Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut.
Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100W5W.
DIarsipkan di bawah: Elektronika | Leave a Comment »
Posted on September 1, 2008 by dltpdf
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membuat contoh (menunjuki kepada hal) yang baik dalam (pandangan) Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [H.R Muslim]
DIarsipkan di bawah: Hikmah Harian | 1 Komentar »