Gula menumpuk , ratusan hektar tebu tidak dipanen

Petani tebu, khususnya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, diperkirakan hingga akhir musim giling pada Oktober 2008, tidak bisa melakukan panen atau tertunda akibat penumpukan gula yang sangat fatal di pabrik-pabrik gula di Jawa Timur.
Penumpukan gula hingga mencapai lapangan di luar pabrik gula tersebut akan menimbulkan kerusakan fatal jika memasuki musim hujan pada Oktober-November mendatang.
“Areal tebu yabg tidak dapat dipanen mencapai ratusan hektare areal tebu di Jawa Timur,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Abdul Wachid, Selasa (9/9)
“Di Jawa Timur, luas areal tebu rakyat mencapai 100.000-200.000 hektare. Memang belum dapat diprediksi berapa luasan yang tidak bisa dipanen hingga akhir musim giling nanti, tapi mencapai ratusan hektare. Yang jelas, petani tebu kesulitan. Tetapi, lebih baik tidak ditebang daripada ditebang tapi tetap menumpuk dan harga jual jatuh,” tegasnya.
Menurut Abdul Wachid, tertundanya panen tebu petani dapat menurunkan rendemen atau kadar gula dalam tebu dari 7 persen hingga 3-4 persen. Di samping itu lanjutnya biaya panen akan membengkak karena jalan masuk ke areal pertanaman tebu dalam musim hujan yang dimulai pada Oktober tidak mudah dilalui truk, bahkan memerlukan lebih dari satu truk pengangkut batang tebu.
Dirinya menegaskan jika pemerintah tidak secepatnya melakukan Sweeping dan penegakan hukum kepada para pengedar gula rafinasi berbahan baku impor, tegas Abdul, harga gula lokal akan semakin jatuh, dan petani tebu akan beralih menanam ke komoditas lainnya yang lebih menguntungkan.
Jika hal itu terjadi, tandasnya, pabrik-pabrik gula dalam negeri akan kehilangan bahan baku 100 persen, kerugian di pihak perbankan yang selama ini memberikan kredit bagi petani tebu atas jaminan pabrik gula, serta biaya sosial yang harus ditanggung karena terganggunya investasi pabrik gula. “Pasar gula nasional akan dipenuhi luar negeri, dan hal itu memberikan keuntungan ekonomi bagi negara luar,” tandasnya.
Saat dihubungi terpisah, anggota Komisi IV Bomer Pasaribu menegaskan, pemerintah selama ini tidak memiliki perkiraan neraca kebutuhan gula dalam jangka waktu tertentu.
Pemerintah lanjutnya tidak memiliki perhitungan kemampuan penyediaan gula domestik yang diproduksi dalam negeri dalam 6 bulan, 1-2 tahun ke depan. “Sehingga perkiraan impor gula bisa dikurangi. Sekarang ini forecasting kebutuhan gula tidak akurat. Amburadulnya manajemen pergulaan,” tegasnya.
Bomer memastikan petani tebu akan mengalami, tekanan kerugian besar yang disebabkan oleh manajemen pergulaan antara swasta dan industri gula yang memprihatinkan (http://hariansib.com/2008/09/10/gula-menumpuk-ratusan-hektare-tebu-tak-panen/)

Ilmuwan-Ilmuwan Indonesia Berprestasi Global

Enam ilmuwan Indonesia masuk daftar Wise Index of Leading Scientists and Engineer. Daftar tersebut dikeluarkan sebuah lembaga internasional berkredibilitas di bidang sains dan teknologi. Siapa saja mereka? Mengapa dalam hal ini kita masih kalah dengan Malaysia?

———-

Malu. Itulah yang dirasakan Tjia May On ketika namanya masuk deretan Wise Index of Leading Scientists and Engineer bersama lima ilmuwan tanah air yang lain. Mengapa malu? Guru besar Fisika dari ITB (Institut Teknologi Bandung ) itu lantas membandingkan dengan negara lain.

”Malaysia saja punya 27 ilmuwan yang diakui dunia. Sampai-sampai dalam daftar itu kita ini masih kalah dengan Maroko, yang secara kultur dan kesejahteraan masyarakat jauh di bawah Indonesia,” kata profesor berusia 74 tahun yang masih tampak energik ini ketika didatangi Jawa Pos di kantornya, kompleks kampus ITB, Jumat lalu (19/9).

Wise Index of Leading Scientists and Engineer adalah sebuah daftar yang dikeluarkan Comstech (Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation), lembaga yang bertujuan meningkatkan promosi serta kerja sama sains dan teknologi di antara negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Nama Tjia masuk deretan daftar tersebut karena konsistensinya dalam menekuni bidang partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dia juga menekuni penelitian polimer, optik nonlinier, dan superkonduktor.

Selama 33 tahun, Tjia tekun dengan penelitiannya itu, baik dilakukan secara individu maupun tim. Hingga kini, profesor kelahiran Probolinggo 25 Desember 1934 itu telah menerbitkan dua buku teks, 24 penelitian kolaboratif internasional, 86 jurnal ilmiah internasional, 44 presentasi simposium internasional, 44 publikasi jurnal nasional, dan 77 presentasi imiah nasional.

Sebagian karya ilmiahnya dipublikasikan di jurnal internasional Physical Review, Nuclear Physics, Physica C, International Journal of Quantum Chemistry, Review of Laser Engineering, dan Journal of Non-linear Optical Physics.

Tjia menyelesaikan studi sebagai sarjana fisika pada 1962 di ITB. Setahun kemudian dia melanjutkan belajar fisika partikel di Northwestern University, Amerika Serikat, hingga meraih PhD pada 1969 dengan tesis berjudul Saturation of A Chiral Charge-Current Commutator.

Pada 1966, risetnya bersama fisikawan CH Albright dan LS Liu masuk Physical Review Letters dengan judul Quark Model Approach in the Semileptonic Reaction.

Pada awal 1960-an, para sarjana fisika di Indonesia baru mempelajari partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dua bidang itu yang mengubah pandangan dunia secara radikal-revolusioner awal abad XX tentang alam semesta dan asal-usulnya. Sepuluh tahun kemudian, di Indonesia hanya ada lima nama yang punya otoritas untuk berbicara tentang kuantum dan relativitas. Salah seorang di antara mereka adalah Tjia. Empat nama lain kala itu adalah Ahmad Baiquni, Muhammad Barmawi, Pantur Silaban, dan Jorga Ibrahim. Mereka adalah angkatan pertama yang jumlah penerusnya relatif sedikit dibandingkan dengan bidang fisika terapan.

Tjia juga sempat ikut riset di International Center of Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan fisikawan peraih hadiah Nobel asal Pakistan, Abdus Salam. Saat itulah, dia meninggalkan fisika partikel dan memasuki riset polimer, optik nonlinier, dan superkonduktor. Dalam dua bidang terakhir itu, namanya menginternasional.

Penggemar musik klasik karya Bach, Haydn, Mozart, dan Beethoven itu lantas mengkritisi kebijakan pemerintah Indonesia yang kurang berpihak kepada pengembangan ilmu. Salah satu contohnya, tegas dia, adalah rendahnya kesejahteraan secara finansial yang diberikan pemerintah kepada ilmuwan dan peneliti. ”Saya tidak mencontohkan siapa-siapa, Anda lihat saya saja,” ujar penerima penghargaan Satyalencana Karya Satya itu.

Tjia menceritakan, dia pensiun dari ITB dengan gaji Rp 2,4 juta. Sampai sekarang, dia bahkan tetap tinggal di kompleks perumahan pegawai ITB. Layaknya pegawai negeri sipil (PNS) lain, untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, dia bahkan masih sering ”mengamen” mengajar di kampus lain. ”Seminggu dua kali saya mengajar di Universitas Indonesia (UI), naik kereta biar bisa baca-baca,” tuturnya.

Tjia juga menyinggung seputar riset Indonesia yang tertinggal jauh dari negara lain. Semua, lanjut dia, mengarah kepada kesalahan pada sistem riset di Indonesia. Pertama, karena memandang orang secara pragmatis, berdasarkan gelar saja. Kedua, Indonesia belum sadar akan kekuatan riset. Dan, selanjutnya adalah paradigma pemerataan yang menyesatkan.

Soal gelar itu, Tjia konsisten. Ketika dia menjabat sekretaris jurusan (satu-satunya jabatan birokrasi yang pernah dia emban), dia mengusulkan agar setiap papan nama staf pengajar ITB tidak mencantumkan gelar. Dan, itu dia lakukan selama menjabat.

”Zaman sekarang, setelah jadi doktor, orang terus merasa jadi gusti,” kritiknya. ”Indonesia punya banyak doktor, tapi banyak yang mandul!” sambungnya.

Di Amerika Serikat (AS), terang Tjia, seorang ilmuwan bisa saja masuk ke dunia birokrat. Menjadi kepala NASA, misalnya. Namun, di AS, track record seorang calon kepala NASA benar-benar dilihat. Jadi, karya-karyanya berupa hasil penelitian atau publikasinya yang menjadi pertimbangan. Di sana, terang dia, orang yang benar-benar teruji dan berpengalaman saja yang bisa duduk di posisi strategis semacam itu. ”Hasilnya jelas memuaskan, kebijakan-kebijakannya benar-benar mengena dan dapat membangun,” tegasnya.

Menurut Tjia, hal itu menjelaskan mengapa di Indonesia banyak kebijakan, terutama di dalam dunia sains dan teknologi, yang tidak mengena dan terkadang justru melenceng jauh. Selain itu, banyak dana riset hanya terbuang percuma karena tidak efektif dan efisien akibat orang-orang yang berkecimpung di dalamnya hanya bergelar doktor, tanpa karya dan kompetensi nyata.

***

Menurut Tjia, pengajaran fisika di Indonesia justru membunuh kreativitas murid. Baik yang diajarkan di setingkat SMP maupun SMA. Dia mencontohkan, proses mengajar selama ini hanya ditekankan kepada satu proses pemahaman fenomena alam, atau lazim dikenali sebagai proses deduktif. Bila cara itu yang digunakan, proses itu tidak akan berhasil membuat anak menjadi kritis analitis. Justru efek sampingnya membunuh kreativitas anak. Terutama dalam upaya menyisir fakta-fakta dari fenomena rumit untuk menghasilkan konsep hipotesis atau model teori yang sederhana.

”Mengapa negara kita semrawut? Jawabannya karena orang hukum hanya bicara bukti, bukan fakta,” katanya.

Dalam pengajaran fisika di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, menurut Tjia, anak diajarkan terlatih menurunkan rumus. Namun, sebaliknya, anak tidak diberi ruang untuk melatih melakukan generalisasi, abstraksi, atau idealisasi dari fakta atau fenomena alam untuk merumuskan suatu model teori. ”Padahal, dalam melakukan generalisasi inilah, tumbuh kreativitas anak dalam melihat fenomena alam,” katanya.

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=25504

KHUSNUDZDZON TERHADAP ALLAH

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 2: 216)

Di jaman modern ini banyak orang yang mengalami kekecewaan hidup. Ada yang kecewa karena kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Ada yang kecewa karena masa depannya yang suram. Ada yang kecewa karena usahanya yang mengalami kebangkrutan. Ada yang kecewa karena kehilangan mata pencaharian. Ada yang kecewa karena gagal mengejar kedudukan. Ada yang kecewa karena gagal menjadi gubernur. Harta kekayaannya yang bernilai milyaran rupiah melayang begitu saja. Kekecewaan ini menyebabkan depresi yang berlanjut dengan penyakit jiwa, bahkan bias jadi bunuh diri. Tentu saja hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Adapun sikap orang beriman adalah menyerahkan persoalan kembali kepada Allah atau bertawakal kepada Allah. Dia faham betul bahwa apa yang terjadi disekitar kita tidak akan mungkin terjadi tanpa ijin Allah. Sedang dia juga menyadari bahwa dia tidak mengerti dengan benar hakekat setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Hanya Allah saja yang mengerti hakekat setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Maka wajar kalau Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS Al Baqarah 2: 216)

Kefahaman terhadap ayat ini akan menentukan stabilitas jiwa seseorang. Dirinya akan menjadi lebih arif dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Dia tidak hanya memandang apa yang dia bisa lihat, tetapi juga peristiwa yang mungkin terjadi dibalik peristiwa tersebut. Dia tidak akan mengamati apa yang terjadi secara lahiriyah, tetapi juga apa yang mungkin terjadi secara batiniyah juga. Kalau yang terjadi secara lahiriyah sesuai dengan kehendaknya, maka dia akan bersyukur. Kalau yang trjadi secara lahiriyah tidak sesuai dengankehendaknya maka dia akan bersabar dan melakukan koreksi dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai batu loncatan menuju kesuksesan berikutnya. Dia faham benar, bahwa Allah tidak akan bersikap buruk terhadap hamba-Nya. Dia Yang Maha Agung tidak memerlukan apapun dari hamba-Nya, termasuk sikap buruk. Maka setiap saat dia akan khusnudldlon billah, setiap saat berprasangka baik kepada Allah. Sikap inilah yang akan membawanya untuk selalu perpikiran positif (positive thingking).

Tidak ada alasan bagi Allah untuk bersikap buruk kepada kita. Sudah pasti apa yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik sesuai dengan keadaan kita pada saat itu. Kalau musibah yang kita terima tidak sesuai dengan kehendak kita, maka hal itu terjadi karena kesalahan kita sendiri. Allah mengungkapkan di dalam QS An Nisa 4: 79 bahwa apasaja mushibah baik yang menimpa kita itu berasal dari Allah dan apa saja mushibah jelek yang menimpa diri kita maka semua itu berasal dari diri kita sendiri. Kalau kita benar dalam menyikapi ayat ini maka kita akan senantiasa berusaha untuk menelusuri apa yang menjadi sebab terjadinya kesalahan. Tidak akan mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi mencari kesalahan yang dia lakukan sendiri. Hasilnya akan dipergunakannya untuk memperbaiki langkah-langkahnya yang akan datang. Tidak seperti orang kebanyakan yang selalu mencari kambing hitam pada pihak lain. Atau senantiasa banyak berkeluh kesah dalam kebingungan dan salah-salah akan bersikap su’udldlon billah. Sikap yang kedua ini tidak akan mendatangkan kebaikan, justru akan menjauhkan kita dari rasa syukur kepada Allah.

Sebagai seorang hamba, tidak layak bagi kita untuk tidak bersyukur kepada-Nya. Segala sesuatu yang ada di semesta alam ini adalah milik Allah termasuk diri dan harta kita. Ketika kita memanfaatkan diri kita untuk berkarya, mencari harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perbuatan kita itu dicatat sebagai sabilillah. Ketika kita memanfaatkan harta yang ada pada kita untuk kepentingan keluarga kita dinilai sedekah. Betapa murahnya Allah kepada kita hamba-Nya yang beriman. Akankah kemurahan tersebut kita balas dengan sikap kemunafikan dengan mengaku beriman, tetapi selalu saja bersikap kufur terhadap nikmat yang Allah berikan?

Ketika kita menafkahkan harta kita di jalan Allah, Allah menilainya sebagai pinjaman dan akan mengembalikannya dnegan berlipat ganda (QS Al Baqarah 2: 245). Ketika kita mamanfaatkan waktu, akal, tenaga, dan diri kita di jalan Allah, Allah menilainya sebagai menolong agama-Nya dan Allah berjanji akan menolong kita (QS Muhammad 47: 7). Padahal sekali lagi diri dan harta kita semuanya adalah milik Allah. Subhanallah, benar-benar tidak layak bagi kita untuk su’udlon kepada-Nya. Sementara dengan khusnudldlon kepada Allah hati kita menjadi lapang menerima keputusan-Nya, cermat menentukan kekurangan dan cerdas menentukan langkah selanjutnya. Semoga kita semua dipilih Allah menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur

Deptan Keluarkan Rekomendasi Pembangunan Tiga Pabrik Gula Baru

Departemen Pertanian (Deptan) telah mengeluarkan rekomendasi terhadap pembangunan tiga pabrik gula (PG) baru oleh swasta dari lima PG yang direncanakan.

Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani, di Jakarta, Rabu, mengatakan ketiga PG baru yang akan dibangun swasta tersebut berlokasi di Jawa Timur (Jatim), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Sumatera Barat (Sumbar).

“Kami telah mengeluarkan rekomendasi untuk tiga PG tersebut dan ijinnya nanti langsung ke Pemda,” katanya.

Satu pabrik gula tersebut akan dibangun oleh PT Gemilang Unggul Luhur Abadi (Gula) di Kabupaten Bojonegoro (Jatim) yang mencakup dua kabupaten lain yakni Tuban dan Lamongan.

PG yang memiliki potensi lahan seluas 21 ribu hektar (ha) tersebut nantinya mampu menggiling 6.000-8.000 ton tebu per hari (Ton Cane per Day/TCD).

Sedangkan PG lainnya di Kalbar akan dibangun oleh PT Permata Hijau Resources di Kabupaten Sambas dengan luas areal mencapai 5.100 ha serta kapasitas giling 4.000-4.500 TCD.

Satu PG lagi dibangun oleh PT Semesta Berjaya di Sumbar yang mencakup wilayah kerja Kabupaten Pesisir Selatan dengan lahan 5000 ha, Padang Pariaman 3000 ha, dan Kabupaten Damasraya seluas 10.000 ha, sehingga totalnya mencapai 18 ribu ha dengan kapasitas giling 5.000-8.000 TCD.

“Kami sudah minta agar penanaman tebu segera dimulai sambil melakukan pembangunan pabrik, sehingga ketika PG jadi bisa langsung dilakukan proses giling,” katanya.

Selain di tiga wilayah tersebut, menurut Achmad Mangga Barani, dua PG baru lain akan dikembangkan oleh PT Astra Agro Lestari di Kabupaten Takalar, dan PT Sinar Mas di Kabupaten Soppeng-Wajjo. Keduanya berada di propinsi Sulawasi Selatan.

“Kami belum mengeluarkan rekomendasi untuk kedua PG tersebut karena masih dikaji, sehingga harus menunggu sampai selesai,” katanya.

Ia mengatakan pembangunan PG oleh swasta tersebut diluar konsorsium perbankan yang dipimpin BRI. Konsorsium tersebut rencananya akan mendanai pembangunan empat PG baru dan revitalisasi PG di Jawa.

Konsorsium perbankan tersebut menganggarkan dana sebesar Rp10,2 triliun untuk revitalisasi 54 PG di Jawa dan membangun empat PG baru yang masing-masing berkapasitas 5.000 ton antara lain di Cikelet, Jawa Barat (Jabar) dan Benculuk Banyuwangi Jawa Timur (Jatim).

“PG baru yang dikembangkan swasta, dananya benar-benar dari mereka. Sedangkan dana konsorsium akan merevitalisasi dan pembangunan PG milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN),” katanya.

Ia menyatakan pengembangan pabrik baru serta revitalisasi PG diharapkan mampu mendukung swasembada gula nasional pada 2009 dengan total produksi mencapai 2,8 juta ton.(*) (http://www.antara.co.id/arc/2007/9/5/deptan-keluarkan-rekomendasi-pembangunan-tiga-pabrik-gula-baru/)

Fakta Tentang Otak

Pada saat lahir seorang bayi memiliki 1.000.000.000.000 sel otak (neuron). Bandingkan dengan jumlah penduduk bumi abad 21 sebanyak 6.000.000.000. Ini berarti dalam kepala bayi terdapat sel otak sebanyak 166 kali lipat jumlah manusia yang tinggal di planet ini. Tiap sel otak memiliki ratusan dan ribuan cabang atau tentakel yang mirip sekali dengan gurita yang berukuran mikro. Masing-masing tentakel ini berisi jamur atau spina dendrit yang mengandung ribuan zat kimia. Inilah yang membawa pesan diantara sel otak, semua informasi dalam setiap pikiran, setiap pengalaman belajar, dan setiap daya ingat yang dimiliki.

Contoh:

Ketika kita berpikir, sebuah gelombang elektromagnetis bergerak turun ke cabang sel otak, memicu zat kimia di dalam salah satu jamur, yang kemudian dengan cepat menyebrangi jarak pendek untuk memicu zat kimia di dalam spina dendrit lainnya. Hal ini kemudian memicu respons elektromagnetis dari sel otak sebelahnya. Proses ini berjalan terus sehingga membentuk jejak setapak yang menyerupai jejak setapak berliku-liku di dalam hutan besar. Dan kecepatan gerak zat kimia ini jika dilihat akan seperti air terjun
Niagara. Dan diselidiki jumlah jejak pikiran ini jika dibuat bentuk teks normal akan membentuk deretan angka sepanjang 10,5 juta km! Dengan begitu banyaknya kemungkinan tersebut otak manusia, jika
seumpama keyboard dapat memainkan ratusan juta juta melodi. Tidak seorangpun yang masih hidup yang pernah mendekati penggunaan otak
secara maksimal. Kekuatan otak manusia ini tidak ada batasannya. (Petr Akhonin, Ilmuwan Otak).
Beda manusia normal dengan jenius “Rata-rata manusia menggunakan 3% kapasitas otaknya dan jenius menggunakan 4%” Semua serangga, ikan, burung atau hewan memiliki sel otak yang sama dengan yang kita miliki. Hanya jumlahnya lebih sedikit. Jumlah sel otak yang dimiliki inilah yang menentukan kecerdasan satu makhluk hidup.

Bandingkan dengna seekor lebah

Seekor lebah memiliki kurang dari 1.000.000 sel otak. (1/1.000.000 jumlah yg dimiliki manusia).

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seekor lebah adalah:
Terbang, berkelahi, melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba, menyentuh, membangun rumah, mengendalikan suhu, menghitung, melindungi, kemampuan bernavigasi, berjalan, berlari, mengingat, bermain, mengasuh, berkembang biak, bekerja secara konstruktif dan
kooperatif dalam sebuah komunitas. Jika seekor lebah dengan jumlah sel otak kurang dari satu juta dapat melakukan semua itu, pikirkan apa yang dapat dilakukan oleh manusia!!

Pada waktu kecil dalam otak kita terjadi suatu ledakan. Saat itu setiap sel otak (neuron) yang jumlahnya berjuta-juta mengeluarkan sejumlah serat yang sangat halus dan kecil ke segala arah, mencari dan
membuat sambungan dengan ribuan sampai puluhan ribu sel otak lainnya. Ini yang dinamakan interkoneksi. Proses ini kemudian berlanjut seterusnya seumur hidup. Pada saat lahir jumlah sel otak kita tidak akan bertambah lagi. Yang akan bertambah adalah jumlah interkoneksi inilah.

Fakta penting

Yang menentukan kecerdasan seseorang bukan jumlah sel otaknya. Sel otak kita sudah memiliki kapasitas yang jauh lebih dari sekedar jenius. Namun, kecerdasan seseorang adalah jumlah interkonkesi sel otak ini. Jumlah interkoneksi ini sebagian besar ditentukan oleh mutu yang sangat baik dari Makanan Otak. Makanan Otak adalah Oksygen, Nutrisi, Kasih Sayang dan Informasi.

(Dari apa yang saya baca dibukunya TONY BUZAN “BRAIN CHILD”)

Catatan:

Tuhan memberikan manusia kemapuan yang tidak terbatas yang belum pernah ter-ekplopre oleh jenius paling pintar sedunia sekalipun. Tujuan semuanya itu agar manusia bisa menaklukkan dunia dan menjadi
penguasa atas semua cipataanNya. Seharusnya manusia sadar bahwa kecerdasannya itu adalah anugerah Tuhan sebagai makhluk ciptaan yang mulia yang seharusnya dipakai untuk menyembahNya dan bukan untuk menentangNya. Semakin banyak seseorang belajar, makan semakin ia tahu bahwa betapa sedikitnya apa yang telah ia ketahui.

Golongan yang Selamat Menjauhi Perdukunan

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65)

Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menterjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan.

Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahu bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang kepada kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur’an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An’am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud.

Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An’am 6: 88).

Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur’an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami tentang istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir.

Disamping arraf, kahin, dan ahli sihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli nujum yang menghubungkan antara pergerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi/kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh kemunculan bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah saw yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang” (HR Bukhori – Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli nujum? Na’udzubillah

Pengendalian pH pada Proses Pemurnian Nira

Abstrak

Faktor utama yang menentukan proses pemurnian nira, adalah aliran nira mentah stabil, penambahan susu kapur dan gas SO2 yang optimal, serta nilai pH dan suhu nira yang tepat. Karena proses pemurnian nira merupakan proses kimia-fisis yang kontinyu dan memerlukan waktu yang cepat/singkat, maka sudah seharusnya dalam penendalian proses dikerjakan secara kontinyu dan otomatis. Pemilihan bahan kimia/pereaksi yaitu kapur 6-10 oBe dan belerang yang mempunyai sisa pembakaran < 1%, dan tidak berbentuk selaput film yang menutupi permukaan, dan sistem pengendalian otomatis yang cocok merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kualitas hasil produk dengan meningkatkan efisiensi.