Membudayakan Saling Menegur

وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا

ِالصَّبْرِ

Demi MASA…..Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr 103: 1-3) Seorang Ustadz menyampaikan pesan Ali bin Abi Thalib: “Undhur ma qoola wa laa tandhur man qoola.” (Perhatikanlah aa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.) Akan tetapi mengamalkan memang tidak semudah mengucapkan, lanjut ustadz tadi. Apalagi kalau yang diucapkan itu berupa teguran yang nyrempet dan menggores di hati kita. Bukan lapang hati yang tampil ke muka, tetapi luka hati yang mengemuka. Ya Allah, ternyata tidak mudah menggapai sorgamu bagi hati yang tertipu. Sasudaraku, sebaiknya jangan tergesa-gesa menghentikan atau menolak pembicaraan orang yang tidak sesuai dengan kehendak hati kita. Boleh jadi sesuatu yang tidak suka itu baik bagi kita dan boleh jadi sesuatu yang kita suka itu jelek bagi kita.(QS Al Baqarah 2: 216). Siapapun yang berstatus sebagai ustadz sering mengalami kesulitan untuk mendengar nasehat orang. Bukan karena tidak mampu mendengar tetapi sering karena merasa dirinya pintar dan benar. Kadang juga karena kedengakian dan kebencian. Kadang juga karena alasan menyembunyikan kekurangannya sendiri. Takut ketahuan orang lain. Nah kalau sudah begini, berarti kita beramal bukan karena Allah. Boleh jadi kita beramal karena hawa nafsu atau bahkan setan. Kita telah mengkhianatai ikrar kita sendiri Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbi’alamiin. Jangan biarkan kecintaan atau kebencian kita kepada golongan menyebabkan kita terhalang dari hidayah Allah. Kalau nasehat berasal dari golongan lain kita tanggapi dengan setengah hati. Kalau nasehat berasal dari golongan sendiri kita tanggapi dengan buta hati. Buka mata hati kita lebar-lebar agar kebenaran itu betul-betul nampak benar dan kebatilan itu betul-betul nampak batil, seperti yang biasa kita doakan. Alloohumma arinal-haqqo haqqo warzuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzuqnaj-tinaabah. Jangan juga karena kebencian kita kepada seseorang menyebabkan kita menutup telinga dari nasehatnya. Kalau kita berbuta demikian berarti kita telah berlaku tidak adil terhadapnya dan berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Padahal Allah berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al Maidah 5:8 ) Sebagai orang yang ditegur tidak perlu kita mempersoalkan bagaimana cara menegur, keindahan susunan kalimatnya, waktu menegur dan segala variasinya. Yang perlu kita perhatikan adalah hakekat teguran tersebut. Kalau teguran itu birisi kebenaran berarti teguran itu berasal dari Allah melalui lisan orang yang menegur. Sebaiknya kita tanggapi dengan senang hati, tanpa ragu-ragu kita ikuti. Al Haqqu min robbika fa laa takunanna minalmumtariinn (QS Al Baqarah 2: 147). Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Dilanjutkan dengan sikap positif, berterima kasih terhadap orang yang menegur dan memperlakukannya sebagai saudara sejati. Orang-orang yang suka menjilat atau bersikap ABS (Asal Bapak Senang) tidak berani menegur. Mereka hakikatnya bukan teman tetapi musuh dalam selimut. Sebagai penegur memang kita harus memperhatikan karakter siapa yang ditegur, suasana hati yang ditegur, memperhatikan waktu menegur dan segala macam variable yang berpengaruh terhadap sampainya sebuah teguran. Tentu tidak hanya sampai di telinga, tetapi sampai di hati dan mampu mendatangkan perubahan yang berarti. Tentu saja kepada siapapun teguran pertama dan kedua selalu kita upayakan dengan lemah lembut. Akan tetapi ketika teguran demi teguran ternyata tidak mempan, hanya masuk dari telinga kanan ke luar dari telinga kiri, tidak ada salahnya kalau kita tegur dengan keras agar membekas di hati sanubarinya. Hal yang perlu selalu kita ingat adalah jangan kita membenci orang yang berlaku salah, jangan kita membenci orang yang kita tegur. Yang kita benci adalah amalnya yang salah, menyimpang dari kebenaran. Yang kita musuhi adalah setan yang menyesatkan, yang harus kita keluarkan dari diri saudara kita. Kalau dia menolak teguran kita, maka kita upayakan menegur dangan cara lain. Kalau dia membenci kita karena teguran kita, tidak perlu kita balas dengan kebencian. Kalau ada yang harus kita benci, maka yang kita benci adalah setan yang menguasai saudara kita itu. Kalau setan gigih menyesatkan saudara kita dan tidak akan berhenti sebelum dia masuk neraka, maka kita juga harus gigih dalam menegur saudara kita, belum akan berhenti sebelum kembali ke jalan yang benar dan sama-sama mati dalam keadaan khusnul-khootimah. Kita tanamkan di dalam hati sanubari kita bahwa umat islam adalah satu tubuh. Kita tidak akan membiarkan sebagian tubuh kita terbakar api neraka sedang sebagian lain bernikmat-nikmat di sorga. Meskipun untuk sebuah sikap yang mulia ini kita harus menebusnya dengan dibenci banyak orang, dikucilkan, dipojokkan, dan dikandangkan (di sitir dari http://mta-online.com/v1/index.php?option=com_content&task=view&id=385&Itemid=1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: