Gula menumpuk , ratusan hektar tebu tidak dipanen

Petani tebu, khususnya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, diperkirakan hingga akhir musim giling pada Oktober 2008, tidak bisa melakukan panen atau tertunda akibat penumpukan gula yang sangat fatal di pabrik-pabrik gula di Jawa Timur.
Penumpukan gula hingga mencapai lapangan di luar pabrik gula tersebut akan menimbulkan kerusakan fatal jika memasuki musim hujan pada Oktober-November mendatang.
“Areal tebu yabg tidak dapat dipanen mencapai ratusan hektare areal tebu di Jawa Timur,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Abdul Wachid, Selasa (9/9)
“Di Jawa Timur, luas areal tebu rakyat mencapai 100.000-200.000 hektare. Memang belum dapat diprediksi berapa luasan yang tidak bisa dipanen hingga akhir musim giling nanti, tapi mencapai ratusan hektare. Yang jelas, petani tebu kesulitan. Tetapi, lebih baik tidak ditebang daripada ditebang tapi tetap menumpuk dan harga jual jatuh,” tegasnya.
Menurut Abdul Wachid, tertundanya panen tebu petani dapat menurunkan rendemen atau kadar gula dalam tebu dari 7 persen hingga 3-4 persen. Di samping itu lanjutnya biaya panen akan membengkak karena jalan masuk ke areal pertanaman tebu dalam musim hujan yang dimulai pada Oktober tidak mudah dilalui truk, bahkan memerlukan lebih dari satu truk pengangkut batang tebu.
Dirinya menegaskan jika pemerintah tidak secepatnya melakukan Sweeping dan penegakan hukum kepada para pengedar gula rafinasi berbahan baku impor, tegas Abdul, harga gula lokal akan semakin jatuh, dan petani tebu akan beralih menanam ke komoditas lainnya yang lebih menguntungkan.
Jika hal itu terjadi, tandasnya, pabrik-pabrik gula dalam negeri akan kehilangan bahan baku 100 persen, kerugian di pihak perbankan yang selama ini memberikan kredit bagi petani tebu atas jaminan pabrik gula, serta biaya sosial yang harus ditanggung karena terganggunya investasi pabrik gula. “Pasar gula nasional akan dipenuhi luar negeri, dan hal itu memberikan keuntungan ekonomi bagi negara luar,” tandasnya.
Saat dihubungi terpisah, anggota Komisi IV Bomer Pasaribu menegaskan, pemerintah selama ini tidak memiliki perkiraan neraca kebutuhan gula dalam jangka waktu tertentu.
Pemerintah lanjutnya tidak memiliki perhitungan kemampuan penyediaan gula domestik yang diproduksi dalam negeri dalam 6 bulan, 1-2 tahun ke depan. “Sehingga perkiraan impor gula bisa dikurangi. Sekarang ini forecasting kebutuhan gula tidak akurat. Amburadulnya manajemen pergulaan,” tegasnya.
Bomer memastikan petani tebu akan mengalami, tekanan kerugian besar yang disebabkan oleh manajemen pergulaan antara swasta dan industri gula yang memprihatinkan (http://hariansib.com/2008/09/10/gula-menumpuk-ratusan-hektare-tebu-tak-panen/)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: