KHUSNUDZDZON TERHADAP ALLAH

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 2: 216)

Di jaman modern ini banyak orang yang mengalami kekecewaan hidup. Ada yang kecewa karena kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Ada yang kecewa karena masa depannya yang suram. Ada yang kecewa karena usahanya yang mengalami kebangkrutan. Ada yang kecewa karena kehilangan mata pencaharian. Ada yang kecewa karena gagal mengejar kedudukan. Ada yang kecewa karena gagal menjadi gubernur. Harta kekayaannya yang bernilai milyaran rupiah melayang begitu saja. Kekecewaan ini menyebabkan depresi yang berlanjut dengan penyakit jiwa, bahkan bias jadi bunuh diri. Tentu saja hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Adapun sikap orang beriman adalah menyerahkan persoalan kembali kepada Allah atau bertawakal kepada Allah. Dia faham betul bahwa apa yang terjadi disekitar kita tidak akan mungkin terjadi tanpa ijin Allah. Sedang dia juga menyadari bahwa dia tidak mengerti dengan benar hakekat setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Hanya Allah saja yang mengerti hakekat setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini. Maka wajar kalau Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS Al Baqarah 2: 216)

Kefahaman terhadap ayat ini akan menentukan stabilitas jiwa seseorang. Dirinya akan menjadi lebih arif dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Dia tidak hanya memandang apa yang dia bisa lihat, tetapi juga peristiwa yang mungkin terjadi dibalik peristiwa tersebut. Dia tidak akan mengamati apa yang terjadi secara lahiriyah, tetapi juga apa yang mungkin terjadi secara batiniyah juga. Kalau yang terjadi secara lahiriyah sesuai dengan kehendaknya, maka dia akan bersyukur. Kalau yang trjadi secara lahiriyah tidak sesuai dengankehendaknya maka dia akan bersabar dan melakukan koreksi dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai batu loncatan menuju kesuksesan berikutnya. Dia faham benar, bahwa Allah tidak akan bersikap buruk terhadap hamba-Nya. Dia Yang Maha Agung tidak memerlukan apapun dari hamba-Nya, termasuk sikap buruk. Maka setiap saat dia akan khusnudldlon billah, setiap saat berprasangka baik kepada Allah. Sikap inilah yang akan membawanya untuk selalu perpikiran positif (positive thingking).

Tidak ada alasan bagi Allah untuk bersikap buruk kepada kita. Sudah pasti apa yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik sesuai dengan keadaan kita pada saat itu. Kalau musibah yang kita terima tidak sesuai dengan kehendak kita, maka hal itu terjadi karena kesalahan kita sendiri. Allah mengungkapkan di dalam QS An Nisa 4: 79 bahwa apasaja mushibah baik yang menimpa kita itu berasal dari Allah dan apa saja mushibah jelek yang menimpa diri kita maka semua itu berasal dari diri kita sendiri. Kalau kita benar dalam menyikapi ayat ini maka kita akan senantiasa berusaha untuk menelusuri apa yang menjadi sebab terjadinya kesalahan. Tidak akan mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi mencari kesalahan yang dia lakukan sendiri. Hasilnya akan dipergunakannya untuk memperbaiki langkah-langkahnya yang akan datang. Tidak seperti orang kebanyakan yang selalu mencari kambing hitam pada pihak lain. Atau senantiasa banyak berkeluh kesah dalam kebingungan dan salah-salah akan bersikap su’udldlon billah. Sikap yang kedua ini tidak akan mendatangkan kebaikan, justru akan menjauhkan kita dari rasa syukur kepada Allah.

Sebagai seorang hamba, tidak layak bagi kita untuk tidak bersyukur kepada-Nya. Segala sesuatu yang ada di semesta alam ini adalah milik Allah termasuk diri dan harta kita. Ketika kita memanfaatkan diri kita untuk berkarya, mencari harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perbuatan kita itu dicatat sebagai sabilillah. Ketika kita memanfaatkan harta yang ada pada kita untuk kepentingan keluarga kita dinilai sedekah. Betapa murahnya Allah kepada kita hamba-Nya yang beriman. Akankah kemurahan tersebut kita balas dengan sikap kemunafikan dengan mengaku beriman, tetapi selalu saja bersikap kufur terhadap nikmat yang Allah berikan?

Ketika kita menafkahkan harta kita di jalan Allah, Allah menilainya sebagai pinjaman dan akan mengembalikannya dnegan berlipat ganda (QS Al Baqarah 2: 245). Ketika kita mamanfaatkan waktu, akal, tenaga, dan diri kita di jalan Allah, Allah menilainya sebagai menolong agama-Nya dan Allah berjanji akan menolong kita (QS Muhammad 47: 7). Padahal sekali lagi diri dan harta kita semuanya adalah milik Allah. Subhanallah, benar-benar tidak layak bagi kita untuk su’udlon kepada-Nya. Sementara dengan khusnudldlon kepada Allah hati kita menjadi lapang menerima keputusan-Nya, cermat menentukan kekurangan dan cerdas menentukan langkah selanjutnya. Semoga kita semua dipilih Allah menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur

Golongan yang Selamat Menjauhi Perdukunan

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65)

Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menterjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan.

Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahu bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang kepada kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur’an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An’am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud.

Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An’am 6: 88).

Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur’an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami tentang istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir.

Disamping arraf, kahin, dan ahli sihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli nujum yang menghubungkan antara pergerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi/kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh kemunculan bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah saw yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang” (HR Bukhori – Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli nujum? Na’udzubillah

Membudayakan Saling Menegur

وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا

ِالصَّبْرِ

Demi MASA…..Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr 103: 1-3) Seorang Ustadz menyampaikan pesan Ali bin Abi Thalib: “Undhur ma qoola wa laa tandhur man qoola.” (Perhatikanlah aa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.) Akan tetapi mengamalkan memang tidak semudah mengucapkan, lanjut ustadz tadi. Apalagi kalau yang diucapkan itu berupa teguran yang nyrempet dan menggores di hati kita. Bukan lapang hati yang tampil ke muka, tetapi luka hati yang mengemuka. Ya Allah, ternyata tidak mudah menggapai sorgamu bagi hati yang tertipu. Sasudaraku, sebaiknya jangan tergesa-gesa menghentikan atau menolak pembicaraan orang yang tidak sesuai dengan kehendak hati kita. Boleh jadi sesuatu yang tidak suka itu baik bagi kita dan boleh jadi sesuatu yang kita suka itu jelek bagi kita.(QS Al Baqarah 2: 216). Siapapun yang berstatus sebagai ustadz sering mengalami kesulitan untuk mendengar nasehat orang. Bukan karena tidak mampu mendengar tetapi sering karena merasa dirinya pintar dan benar. Kadang juga karena kedengakian dan kebencian. Kadang juga karena alasan menyembunyikan kekurangannya sendiri. Takut ketahuan orang lain. Nah kalau sudah begini, berarti kita beramal bukan karena Allah. Boleh jadi kita beramal karena hawa nafsu atau bahkan setan. Kita telah mengkhianatai ikrar kita sendiri Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbi’alamiin. Jangan biarkan kecintaan atau kebencian kita kepada golongan menyebabkan kita terhalang dari hidayah Allah. Kalau nasehat berasal dari golongan lain kita tanggapi dengan setengah hati. Kalau nasehat berasal dari golongan sendiri kita tanggapi dengan buta hati. Buka mata hati kita lebar-lebar agar kebenaran itu betul-betul nampak benar dan kebatilan itu betul-betul nampak batil, seperti yang biasa kita doakan. Alloohumma arinal-haqqo haqqo warzuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzuqnaj-tinaabah. Jangan juga karena kebencian kita kepada seseorang menyebabkan kita menutup telinga dari nasehatnya. Kalau kita berbuta demikian berarti kita telah berlaku tidak adil terhadapnya dan berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Padahal Allah berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al Maidah 5:8 ) Sebagai orang yang ditegur tidak perlu kita mempersoalkan bagaimana cara menegur, keindahan susunan kalimatnya, waktu menegur dan segala variasinya. Yang perlu kita perhatikan adalah hakekat teguran tersebut. Kalau teguran itu birisi kebenaran berarti teguran itu berasal dari Allah melalui lisan orang yang menegur. Sebaiknya kita tanggapi dengan senang hati, tanpa ragu-ragu kita ikuti. Al Haqqu min robbika fa laa takunanna minalmumtariinn (QS Al Baqarah 2: 147). Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Dilanjutkan dengan sikap positif, berterima kasih terhadap orang yang menegur dan memperlakukannya sebagai saudara sejati. Orang-orang yang suka menjilat atau bersikap ABS (Asal Bapak Senang) tidak berani menegur. Mereka hakikatnya bukan teman tetapi musuh dalam selimut. Sebagai penegur memang kita harus memperhatikan karakter siapa yang ditegur, suasana hati yang ditegur, memperhatikan waktu menegur dan segala macam variable yang berpengaruh terhadap sampainya sebuah teguran. Tentu tidak hanya sampai di telinga, tetapi sampai di hati dan mampu mendatangkan perubahan yang berarti. Tentu saja kepada siapapun teguran pertama dan kedua selalu kita upayakan dengan lemah lembut. Akan tetapi ketika teguran demi teguran ternyata tidak mempan, hanya masuk dari telinga kanan ke luar dari telinga kiri, tidak ada salahnya kalau kita tegur dengan keras agar membekas di hati sanubarinya. Hal yang perlu selalu kita ingat adalah jangan kita membenci orang yang berlaku salah, jangan kita membenci orang yang kita tegur. Yang kita benci adalah amalnya yang salah, menyimpang dari kebenaran. Yang kita musuhi adalah setan yang menyesatkan, yang harus kita keluarkan dari diri saudara kita. Kalau dia menolak teguran kita, maka kita upayakan menegur dangan cara lain. Kalau dia membenci kita karena teguran kita, tidak perlu kita balas dengan kebencian. Kalau ada yang harus kita benci, maka yang kita benci adalah setan yang menguasai saudara kita itu. Kalau setan gigih menyesatkan saudara kita dan tidak akan berhenti sebelum dia masuk neraka, maka kita juga harus gigih dalam menegur saudara kita, belum akan berhenti sebelum kembali ke jalan yang benar dan sama-sama mati dalam keadaan khusnul-khootimah. Kita tanamkan di dalam hati sanubari kita bahwa umat islam adalah satu tubuh. Kita tidak akan membiarkan sebagian tubuh kita terbakar api neraka sedang sebagian lain bernikmat-nikmat di sorga. Meskipun untuk sebuah sikap yang mulia ini kita harus menebusnya dengan dibenci banyak orang, dikucilkan, dipojokkan, dan dikandangkan (di sitir dari http://mta-online.com/v1/index.php?option=com_content&task=view&id=385&Itemid=1)

sabda Nabi mengenai berbuat baik

Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membuat contoh (menunjuki kepada hal) yang baik dalam (pandangan) Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [H.R Muslim]

kebenaran

“Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong.” (Muttafaq Alaihi).

Kajian agama dari radio

anda ingin mendengarkan kajian agama dari radio????klik sj di http://www.mta-online.com
siaran kajian agama disiarkan setiap hari mulai jam 19.00 atau ba’da isya. anda akan mendapatkan sesuatu yang beda, yang tidak pernah anda dengarkan sebelumnya…………..

statistik umur manusia

Distribusi normal manusia meninggal dunia (tahun)

Chart    : Rata- rata manusia meninggal dunia antara usia 60 thn ~ 70thn (mayoritas)

Rata-rata manusia meninggal = ±65 th, beruntung yg diberikan umur panjang dan dimanfaatkan sisa umurnya.

Baligh  :

Start untuk seseorang di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia?

Laki-laki Baligh = 15 tahun

Wanita Baligh    = 12 tahun

Usia Yang tersisa untuk kita beribadah kepada-Nya kita pukul rata dengan rumus :

MATI – BALIGH = Perkiraan sisa USIA ?????.. = 65 – 15 = 50 tahun

Lalu 50 tahun ini digunakan untuk apa saja ?

Flowchart :

Multidocument : Catatan: 50 tahun

12 jam siang hari dan12 jam malam hari =  24 jam (sehari semalam)

Mari kita telaah bersama.

Waktu kita tidur = 8 jam/hari

Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam = 16 tahun, 7 bulan?? → di bulatkan jadi 17 tahun

Logikanya :

Alangkah sayangnya waktu 17 tahun habis di gunakan untuk tidur, padahal kita akan tertidur dari dunia untuk selamanya?

Catatan:

Yang lebih bermasalah lagi bagi mereka yang tumor alias tukang molor, bisa jadi 12 jam/hari = 25 tahun habis tertidur!!!

Hati-hati dengan penyakit TUMOR (Tukang MoloR)

Waktu aktivitas kita di siang hari = 12 jam

Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas : 18250 hari x 12 jam = 219000 jam = 25 tahun

Aktivitas disiang hari :

Ada yang bekerja, atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah, ada yang makan sambil jalan-jalan, ada pula yang gambling sambil maling?

dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain??…

Waktu aktivitas santai atau rilexsasi = 4 jam

Dalam 50 tahun waktu yang dipakai rileksasi 18250 hari x 4 jam = 73000 jam = 8 tahun

Realisasi rileksasi :

Biasanya nonton tv sambil minum kopi, ada pula yang belajar mati-matian/ bikin contekan habis-habisan buat ujian, atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan??

17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun   (Plus plos/ Balance Tidur?? Ngelembur? Nganggur, dll )

Lalu kapan Ibadahnya… ???

Padahal manusia diciptakan-Nya  tiada lain dan tiada bukan untuk semua dan segalanya hanyalah beribadah kepada-Nya, karena satu hal yang pasti kita akan kembali ke alam hakiki Illahi.

Maut datang menjemput tak pernah bersahut Malaikat datang menuntut untuk merenggut Manusia tak kuasa untuk berbicara Tuhan Maha Kuasa atas syurga dan Neraka?

Memang benar! kuliah itu ibadah, kalau niat kuliahnya  untuk ibadah, lha wong kita mah kuliah mau nyari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah?

Memang benar ! Bekerja cari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana?

Orang kita bekerja sikut sanah sikut sinih, banting tulang banting orang, tujuan utamanya cari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang-orang? ..

Jarang orang menolak untuk di puji dan di puja tatkala mereka berjaya ?

Pernah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah tapi sayang hanya sekedar pernah?

Pernah kita berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia.

Lalu kapan ibadahnya… ???

Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap cukup ?!

Karena kita pikir; sholat begitu besar pahalanya, sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat jalan untuk membuka pintu syurga???Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat kita !

Berapa sholat kita dalam 50 tahun ?

1x sholat = 10 menit ?..5x sholat  = 1 jam

Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat = 18250 hari x I jam =18250 jam = ± 2 tahun (ini dengan asumsi semua sholat kita diterima oleh Allah swt. )

Kesimpulan:

Waktu yang k ita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk sholat????

2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita?.itupun belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di terima…

Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; dalam ucap katakita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja, dalam ucap

kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya kita yangselalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku langkah kita yang  selalu bergelimang dosa.

Logika dari logikanya:

Bukan satu yang tidak mungkin kita umat di akhir jaman akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian.

Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana.

Solusi :

Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat . Jangan di tunda-tunda lagi?

Ingat malaikat maut akan datang kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Akhirat adalah tujuan kita yang terakhir ! Apakah kita siap menyambut malaikat maut kapan saja dan dimana saja ?